Sudah kurang lebih lima tahun, dan Wei masih menggunakan sepatu kets yang sama selama itu.
Sejak SMA hingga di tahun kedua statusnya sebagai mahasiswa. Dan sepatu abu-abu yang awalnya hitam itu masih terlihat melekat di kakinya. Tak sedikit temannya yang bertanya "Kenapa tidak beli yang baru saja?," tapi dengan senyum khasnya dia selalu menjawab "Entahlah, mungkin karena sudah sangat nyaman memakainya."
Sejujurnya, Wei sendiri bingung, kenapa tidak membeli sepatu baru saja(?) lalu membuang sepatu kets kesayangannya itu, toh membuangnya bukan lagi hal yang mubazir.
Hingga suatu siang, mungkin karena rasa bosan kini mulai menutupi rasa nyamannya, Wei akhirnya memutuskan untuk membeli sepatu kets baru. Kedua matanya sibuk menulusuri layar smartphone, aplikasi online shop menjadi pilihannya.
Tanpa berpikir panjang, dia memilih sepasang sepatu kets berwarna ungu, hmm sama sekali bukan style-nya, dan tanpa membaca deskripsi bahan dan lain-lain dia pun menekan tombol beli. Sekilat itu?
Yah, paling tidak itu adalah satu langkah yang positif, paling tidak dia mulai menyayangi dirinya sendiri.
Soal sepatu baru? hmm biarlah itu menjadi masalah baru yang akan dicari solusinya nanti. Karena salah satu metode terbaik agar Wei tidak memakai sepatu lamanya adalah dengan membeli yang baru, right?
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Sunday, February 5, 2017
Friday, November 4, 2016
This Shouldn't Happen From the Start
Pada suatu hari, seekor kucing liar yang telah lama tinggal di lingkungan sekitar rumah seorang gadis kecil mengendap-endap masuk ke dalam rumah si gadis kecil. Karena takut ikan goreng kesayangannya dicuri, gadis kecilpun sesegera mungkin mengusir kucing liar itu. Hush, hush.
Keesokan harinya, kucing liar tak menyerah, dia kembali masuk melalui pintu belakang rumah si gadis kecil. Rumah itu terlihat sepi, si kucing pun dengan santainya menghampiri meja makan. Ketika hendak menjangkau seekor ikan goreng utuh di atas piring keramik, si gadis kecil muncul dari kolong meja dan mengageti si kucing yang seketika terbirit-birit keluar.
Di sore hari, kucing liar mencoba metode yang baru. Dia tidak lagi semena-mena memasuki dapur si gadis kecil, dia menghampiri gadis kecil yang sedang bermain sendirian di halaman rumah. Meong. Dia mendekati kaki kecil si gadis. Dengan licik, si kucing liar mengelus kaki si gadis kecil dengan bulu-bulu lembutnya. Meong, meong. Dia bersikap manja.
Gadis kecil yang awalnya ingin menjauh, kini merasa iba dan melipat kedua lututnya mendekati si kucing. Hihi.. Si gadis kecil tersenyum melihat tingkah lucu kucing liar itu. Mereka pun bermain bersama dan berlari-lari mengelilingi halaman rumah.
Keesokan harinya, si gadis kecil tak menemui kucing liar berbulu putih itu. Kening mungilnya mengernyut. Ia berlari menuju dapur. Ikan goreng buatan ibunya masih utuh di atas meja. Kemana dia pergi?
Gadis kecil itupun mencubit ikan goreng makan siangnya lalu berkeliling di sekitar halaman sambil memegang secubit ikan goreng. Dia menunduk-nunduk, mengintai di sekitar pot-pot bunga. Meong, meong. Kini si gadis kecil bahkan mencoba menyerupai suara kucing liar, berharap si kucing terpanggil dan menghampirinya.
Namun anehnya si kucing liar tak juga terlihat.
Gadis kecil itu sedih, dia kecewa sambil menatap secubit ikan yang berada tangan kanannya.
Apa yang sedang aku lakukan?
Mengapa kucing yang biasanya kuusir dan kujauhi itu kini dengan susah payah kucari sambil membawakannya ikan goreng kesukaanku?
Mengapa aku menjadi sebodoh ini? Kini cartoon kesukaanku telah habis jam tayang sedari 30 menit yang lalu karena aku membuang-buang waktu mencari seekor kucing liar.
Dengan perasaan menyesal, si gadis kecil pun memasuki rumah dan mengunci pintu.
Semua jendela ditutupnya rapat.
Berharap tak ada lagi kucing-kucing liar yang bisa mengendap masuk ke rumahnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)


