Saya yakin bahwa tidak semua orang bisa mengerti perasaan seseorang, jika mereka tidak merasakannya sendiri
Maka dari itu kepada kalian yang bukan EXO-L, silahkan mengabaikan tulisan ini. Terima kasih
...
Setelah berhasil menggelar konser "The Lost Planet" di Indonesia pada tahun 2014, hari ini, Sabtu, 27 Februari 2016, EXO kembali mengadakan konser EXO Planet 2 EXOluXion di Jakarta.
Perasaan kecewa dari dua tahun silam saja masih jelas terasa, dan sekarang, perasaan itu malah tertumpuk, rasanya benar-benar berat, membayangkan euforia EXO-Ls beruntung disana. Mereka pasti serasa mimpi, bertemu orang-orang yang setiap hari hanya dapat mereka lihat dari balik layar handphone.
Hhhh oksigen yang kuhirup ini, mereka juga sedang menghirup oksigen dari negara yang sama denganku. Kita sedang menghirup dan memandang langit yang sama, bukan?-_-
Jujur, saya tidak pernah tertarik dengan hal-hal semacam pacaran, dan selalu menjawab "tidak" setiap teman-teman sekampus menanyakan pendapat saya mengenai ketampanan seseorang. "Liatmi itue, cakep na toh?", "nda, biasaji"
Hmm, mungkin karena standar ketampanan yang saya ketahui itu berbeda haha-_-"
Mereka disana pasti sedang sangat bahagia, sampai berusaha meminimalisir kuantitas kedipan mata. Sedangkan saya disini, hanya bisa mengabadikan rasa kekecewaan. Ah! jinjja you're so lucky guys.
D.O oppa, lagi-lagi kita tak dipertemukan, padahal kau sudah jauh-jauh ke Jakarta, maafkan EXO-Lmu yang tak berduit ini -,_-
Saya berharap, bagi kalian yang bukan EXO-L tapi masih membaca hingga baris ini dapat mengerti walau hanya seperseribu perasaan saya, berhenti menertawakan saya, walaupan saya tahu bahwa postingan kali ini akan anda cap menjadi postingan teralay saya-,-
Sekian.
Ya, Allah, I wish I were here right now, One day, You will give me a chance, right? Jebal :')
Showing posts with label Kesukaan. Show all posts
Showing posts with label Kesukaan. Show all posts
Saturday, February 27, 2016
Nobody will understand me: Gara-gara EXOluXion in Jakarta
Posted by
Zakinah Rizky Rahman
at
6:37 AM
Labels:
Catatan Harian,
Heart,
Kesukaan,
Random
Monday, February 16, 2015
Detik-detik Wafatnya Rasulullah SAW: "Ummatii, Ummatii, Ummatii!"
Usai khutbah singkatnya nan penuh haru, kedua bola matanya teduh menatap
satu persatu sahabatnya yang sedari tadi menahan tangis disertai desahan hati
oleh kekhawatiran.
Bagaimana tidak? Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya.
Kala turun dari mimbar, tubuhnya melemah dan limbung.
Saat itu, seluruh pemilik hati yang senantiasa mencintainya seakan ingin menahan tiap detik yang berlalu, mengembalikkan waktu jika bisa.
Sementara itu, di atas pelepah kurma, badannya terbaring lemah disertai piluh yang membasahi keningnya. Tatkala momen haru itu berlangsung, tiba-tiba terdengar seruan salam dari balik daun pintu, meminta izin tuk diperkenankan masuk.
Namun putri bungsunya tak mengizinkan, khawatir kesehatan ayahnya mungkin memburuk oleh besukan seseorang.
Dengan pandangan yang menggetarkan, ia menanyakan keberadaan tamu yang tak dikenali putri bungsunya tadi. Lalu memberitahukan identitas tamu itu yang sebenarnya.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” ujarnya lembut.
Izrail memberi salam dan mengetuk daun pintu rumahnya. Sesosok malaikat maut meminta izin kepadanya, ketika hendak memisahkan ruh dan raganya.
Beliaulah Rasulullah SAW. manusia terpuji di muka bumi, sebaik-baik teladan seluruh umat manusia. Sedangkan wanita mulia yang berada di sisinya, yang terus menahan ledak tangisnya adalah Fatimah az Zahra.
Tak mendapati Malaikat Jibril ketika Izrail menghampiri, Rasulullah menanyakan mengapa Jibril tak menyertainya. Jibril yang sudah bersiap di langit menyambut ruh kekasih Allah pun dipanggil turun. Jibril turun membawa kabar nikmat terindah. Di langit sana, telah disiapkan hak-hak Rasulullah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu, semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” jelasnya.
Kabar nikmat tiada tara itu, tak membuat benak Rasulullah lega, matanya masih penuh kekhawatiran. Ternyata yang dipikirkannya bukanlah nikmat yang pasti akan ia temui, beliau SAW. tak memikirkan dirinya bahkan di detik-detik terakhir nafasnya.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib ummatku kelak?,” suaranya bergetar cemas.
Ya, yang beliau khawatirkan bukanlah wasiat maupun warisan. Melainkan umatnya di masa mendatang, yang belum pernah beliau temui sebelumnya.
Detik itu, saatnya Izrail melaksanakan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Tubuhnya bersimbah piluh, urat-urat lehernya nampak jelas. Beliau mengaduh kesakitan. Mengenai betapa perihnya sakaratul maut. Sakit yang tak tertahankan. Fatimah terpejam mengisak, Ali tertunduk dalam, sedangkan Jibril memalingkan muka, tak sanggup menyaksikan kekasih Allah direnggut ajal.
Merasakan dahsyatnya maut, Rasulullah mengaduh kepada Allah agar semua siksa maut umatnya ditimpakan saja kepadanya. Ternyata cintanya lebih dahsyat.
Beberapa saat, badan Rasulullah mulai mendingin, tubuhnya sudah tak mampu bergerak lagi. Ali mendekatkan telinganya ketika melihat bibir Rasulullulah bergetar hendak membisikkan sesuatu.
“Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum (Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”
“Ummatii, ummatii, ummatii!,”
Dan, panggilan hangat penuh cinta Rasulullah kepada kita (umatnya), menjadi akhir hidup manusia termulia itu di muka bumi. Di luar pintu, ledakan tangis terdengar, para sahabat berpelukan saling menguatkan.
Bagaimana tidak? Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya.
Kala turun dari mimbar, tubuhnya melemah dan limbung.
Saat itu, seluruh pemilik hati yang senantiasa mencintainya seakan ingin menahan tiap detik yang berlalu, mengembalikkan waktu jika bisa.
Sementara itu, di atas pelepah kurma, badannya terbaring lemah disertai piluh yang membasahi keningnya. Tatkala momen haru itu berlangsung, tiba-tiba terdengar seruan salam dari balik daun pintu, meminta izin tuk diperkenankan masuk.
Namun putri bungsunya tak mengizinkan, khawatir kesehatan ayahnya mungkin memburuk oleh besukan seseorang.
Dengan pandangan yang menggetarkan, ia menanyakan keberadaan tamu yang tak dikenali putri bungsunya tadi. Lalu memberitahukan identitas tamu itu yang sebenarnya.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” ujarnya lembut.
Izrail memberi salam dan mengetuk daun pintu rumahnya. Sesosok malaikat maut meminta izin kepadanya, ketika hendak memisahkan ruh dan raganya.
Beliaulah Rasulullah SAW. manusia terpuji di muka bumi, sebaik-baik teladan seluruh umat manusia. Sedangkan wanita mulia yang berada di sisinya, yang terus menahan ledak tangisnya adalah Fatimah az Zahra.
Tak mendapati Malaikat Jibril ketika Izrail menghampiri, Rasulullah menanyakan mengapa Jibril tak menyertainya. Jibril yang sudah bersiap di langit menyambut ruh kekasih Allah pun dipanggil turun. Jibril turun membawa kabar nikmat terindah. Di langit sana, telah disiapkan hak-hak Rasulullah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu, semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” jelasnya.
Kabar nikmat tiada tara itu, tak membuat benak Rasulullah lega, matanya masih penuh kekhawatiran. Ternyata yang dipikirkannya bukanlah nikmat yang pasti akan ia temui, beliau SAW. tak memikirkan dirinya bahkan di detik-detik terakhir nafasnya.
“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib ummatku kelak?,” suaranya bergetar cemas.
Ya, yang beliau khawatirkan bukanlah wasiat maupun warisan. Melainkan umatnya di masa mendatang, yang belum pernah beliau temui sebelumnya.
Detik itu, saatnya Izrail melaksanakan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Tubuhnya bersimbah piluh, urat-urat lehernya nampak jelas. Beliau mengaduh kesakitan. Mengenai betapa perihnya sakaratul maut. Sakit yang tak tertahankan. Fatimah terpejam mengisak, Ali tertunduk dalam, sedangkan Jibril memalingkan muka, tak sanggup menyaksikan kekasih Allah direnggut ajal.
Merasakan dahsyatnya maut, Rasulullah mengaduh kepada Allah agar semua siksa maut umatnya ditimpakan saja kepadanya. Ternyata cintanya lebih dahsyat.
Beberapa saat, badan Rasulullah mulai mendingin, tubuhnya sudah tak mampu bergerak lagi. Ali mendekatkan telinganya ketika melihat bibir Rasulullulah bergetar hendak membisikkan sesuatu.
“Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum (Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”
“Ummatii, ummatii, ummatii!,”
Dan, panggilan hangat penuh cinta Rasulullah kepada kita (umatnya), menjadi akhir hidup manusia termulia itu di muka bumi. Di luar pintu, ledakan tangis terdengar, para sahabat berpelukan saling menguatkan.
Allaahumma sholli ‘alaa Muhammad
wa’alaihi wasahbihi wasallim.
Thursday, January 15, 2015
It's You
Nan ajik yeogiseo
neol gidarilkke
geudaega nareul
barabomyeon
wae amumal
motaneunji
hago sipeun mari
neomunado manheunde
honja ureodo
gwaenchanha
eonjena barabogo
isseulge It's you
Tuesday, December 23, 2014
Malaikat Bersayap Kertas
Sorry reader, tulisannya aneh dan sedikit gaje. Tapi kalau tetap mau baca, sille hamnida(silahkan)..
Sejatinya para malaikat
Berwajah
binar oleh kilauan jasaTak kenal lelah walau disanding piluh pekat
Kau hadir tuk cerdaskan bangsa
Sejatinya para malaikat
Berparas teduh sejukkan jagat
Kau melangkah bak perwira
Walau kedua tumpuan tak lagi muda
Wahai malaikat bersayap kertas
Bertuliskan ilmu penuh faedah
Nan kau taburkan tanpa batas
Sadarkan kami betapa dunia itu indah
Wahai malaikat bersayap kertas
Mengulurkan tangan melalui jendela dunia
Sepantasnya lencanamu ialah emas
Berkat sayapmu tanamkan bibit bangsa
Kaulah malaikat penerang kebodohan
Mengajak kami selami laut pengetahuan
Bersama sayap yang tak luntur oleh masa
Dipenuhinya hidupmu oleh tumpukan jasa
Tuesday, October 14, 2014
Dr. Zakir Naik
Selain
Rasulullah Saw. yang sudah seharusnya menjadi idola nomor satu di dalam hati setiap
pribadi seorang muslim.
Kita
pasti memiliki seseorang yang dikagumi dan menjadi inspirasi tersendiri bagi
diri kita.
Seseorang
yang membuat mata berbinar, yang dengan karya-karyanya membuat hati kita
berdegup terpesona.
Boleh
jadi ia adalah seorang guru, pendakwah, atlet, aktor, ataupun seorang aktris.
Kali
ini, saya akan sedikit menceritakan mengenai seorang tokoh yang sedang saya
idolakan.
Beliau
seorang dokter medis namun telah menjadi ulama dari India yang terlibat dalam
dakwah Islam dan perbandingan agama sejak tahun 1991. Beliau adalah Zakir Abdul
Karim Naik atau lebih dikenal dengan Dr. Zakir Naik. Siapa yang tak kenal
dengan beliau?
Yang
membuat saya kagum dengan Dr. Naik yakni ketika beliau menyampaikan
dakwah-dakwah yang selalu dihadiri oleh ribuan jamaah. Ketika beliau menjawab
pertanyaan-pertanyaan dari beberapa jamaah dan bukan hanya orang Islam saja
yang mendengarkan dan mengikuti ceramah yang beliau sampaikan akan tetapi para
kaum kristen, hindu, budha, bahkan ateisme kerap kali menjadi jamaah dan
mengambil kesampatan pada sesi tanya-jawab.
Ketika
diberi pertanyaan yang tak jarang menentang Islam, beliau selalu mengawali
jawabannya dengan memuji pertanyaan yang dilontarkan penanya, lalu menjawab dengan
sistematik, Dr. Zakir Naik menjawab pertanyaan tersebut dari mendasar kemudian
dengan pengandaian-pengandaian yang dengan mudah ditangkap akal sehat, serta
tak lupa ia sertai dengan dalil-dalil yang lebih meyakinkan para penanya,
bahkan mereka yang bertanya sering kali tak mampu lagi berkutip.
Dr.
Zakir Naik dengan kemampuan yang dimilikinya dari Allah berupa hafalan yang
teramat kuat tidak hanya mampu menghafalkan Al-Qur'an dan Shahih Bukhari
Muslim, akan tetapi beliau juga telah menguasai kitab Weda, Tripitaka, Bhagavad
gita, bahkan telah menggerakkan hati ribuan penganut Hindu di India dan menjadi
mu'allaf. Beliau tanpa ragu-ragu juga mengoreksi pastur dan pendeta jika mereka
salah dalam mengutip ayat-ayat dalam bibble atau injil.
Dr.
Zakir Naik sendiri memiliki tokoh yang menjadi inspirasinya yakni Ahmed Deedat,
guru beliau. Namun, Dr. Zakir Naik tidak memiliki banyak agenda Debat Terbuka
layaknya Ahmed Deedat karena hampir semua tantangan debat yang dilayangkan oleh
Dr. Zakir Naik tidak mendapat respon dari gereja-gereja, bahkan sampai sekarang
belum ada berita apakah ada Pendeta yang berani berhadapan langsung dengan
beliau. Oleh karena itu, Dr. Zakir Naik dijuluki "Ahmed Deedat Plus"
yang telah membuat pastur dan pendeta merasa ngeri berhadapan dengan
beliau yang argumentasinya belum pernah terpatahkan.
Dakwah-dakwah yang beliau sampaikan dengan mudah
dapat diakses melalui situs youtube yang kebanyakan berasal dari saluran Peace
TV, stasiun televisi milik beliau, yang direkam dengan
kefasihan beliau dalam berbahasa Inggris, bahkan beberapa telah disertai subtitle Indonesia.
Subhanallah..
Semoga suatu hari nanti,
Allah mengizinkan saya menjadi salah satu
dari
ribuan jamaah yang menghadiri majelis beliau.
Aamiin ^^
Subscribe to:
Posts (Atom)





.jpg)

