Showing posts with label Heart. Show all posts
Showing posts with label Heart. Show all posts

Sunday, April 2, 2017

"Seandainya tidak ada kejahatan di dunia ini.."

Seandainya tak ada kejahatan di dunia ini..
Sebuah kalimat yang akhir-akhir ini terus terngiang, setiap melihat keluar jendela, keadaan dunia yang sesungguhnya, keadaan dunia nyata yang sungguh miris dan benar-benar menyeramkan. Saya tahu, bahwa yang terlihat di media-media hanya sepersekian persen dari berbagi kekejaman yang terjadi di bumi ini.

Gerombolan remaja yang merasa senang saat mem-bully temannya sendiri, tanpa pernah sekalipun berpikir, "bagaimana jika saya yang berada diposisinya?".
Beberapa orang tua yang hatinya telah mati dengan menganiaya anaknya sendiri, tidak, mereka bahkan tak pantas disebut orang tua.
Perampok, pencuri, begal, dan apalah sebutan mereka yang taunya hanya merampas milik orang lain, tak ada bedanya dengan seekor kucing liar yang mengambil ikan para ibu rumah tangga, setidaknya kucing liar sedikit tahu diri, mereka mengambil tanpa main fisik.
Egoisme beberapa pejabat yang menginjak-injak masyarakatnya sendiri dengan sepatu kekuasaan.
Para pedofilia dan sejenisnya yang telah kehilangan akal sehat seutuhnya.
Dan yang berada pada level tertinggi, iblis berwujud manusia, yakni kekejaman para tentara Bashar al-Assad dan Israel yang sepertinya telah lupa ingatan bahwa diri mereka adalah manusia.

Seandainya tak ada kejahatan di dunia ini..
Saya sadar, bahwa kalimat tersebut tak sepantasnya diucapkan, karena bisa berarti mempertanyakan takdir dan kehendak Allah.
Namun, hati kecil di lubuk ini terus melonjak tak ingin diam. Mendengarkan jeritan mereka yang menderita, memiliki beban besar ingin menolong mereka keluar dari penderitaan. 
Saya sadar bahwa itu adalah sisi kemanusiaan yang fitrah, dan walaupun terbebani, saya tetap bersyukur dengan hal itu, setidaknya dengan beban ini akan menjadi tembok kokoh yang menghindari empunya dalam melakukan kekejaman-kekejaman di atas.

Kepada para pelaku kejahatan, kepada kalian yang telah berbuat jahat, baru saja berbuat jahat, atau yang merencanakan kejahatan, serta kepada diri saya sendiri.
Hanya semenit.. Mari letakkan tangan kalian di tempat hati berada, rasakan keberadaannya, sambil memejamkan mata, hirup udara lepas selepas-lepasnya dan temukan sisi kemanusiaan kita. Bagaimana keadaannya? Masihkah dia berada di sana?

Semoga kita, keluarga serta orang-orang yang kita sayangi senantiasa terhindar dari segala bentuk kejahatan dan berbuat jahat.
Aamiin Ya Rabbal 'Alamin

Sunday, February 5, 2017

Saatnya Membuang Sepatu yang Lama

Sudah kurang lebih lima tahun, dan Wei masih menggunakan sepatu kets yang sama selama itu.
Sejak SMA hingga di tahun kedua statusnya sebagai mahasiswa. Dan sepatu abu-abu yang awalnya hitam itu masih terlihat melekat di kakinya. Tak sedikit temannya yang bertanya "Kenapa tidak beli yang baru saja?," tapi dengan senyum khasnya dia selalu menjawab "Entahlah, mungkin karena sudah sangat nyaman memakainya."

Sejujurnya, Wei sendiri bingung, kenapa tidak membeli sepatu baru saja(?) lalu membuang sepatu kets kesayangannya itu, toh membuangnya bukan lagi hal yang mubazir.
Hingga suatu siang, mungkin karena rasa bosan kini mulai menutupi rasa nyamannya, Wei akhirnya memutuskan untuk membeli sepatu kets baru. Kedua matanya sibuk menulusuri layar smartphone, aplikasi online shop menjadi pilihannya.

Tanpa berpikir panjang, dia memilih sepasang sepatu kets berwarna ungu, hmm sama sekali bukan style-nya, dan tanpa membaca deskripsi bahan dan lain-lain dia pun menekan tombol beli. Sekilat itu?
Yah, paling tidak itu adalah satu langkah yang positif, paling tidak dia mulai menyayangi dirinya sendiri.
Soal sepatu baru? hmm biarlah itu menjadi masalah baru yang akan dicari solusinya nanti. Karena salah satu metode terbaik agar Wei tidak memakai sepatu lamanya adalah dengan membeli yang baru, right?


Friday, November 4, 2016

This Shouldn't Happen From the Start

Pada suatu hari, seekor kucing liar yang telah lama tinggal di lingkungan sekitar rumah seorang gadis kecil mengendap-endap masuk ke dalam rumah si gadis kecil. Karena takut ikan goreng kesayangannya dicuri, gadis kecilpun sesegera mungkin mengusir kucing liar itu. Hush, hush.
Keesokan harinya, kucing liar tak menyerah, dia kembali masuk melalui pintu belakang rumah si gadis kecil. Rumah itu terlihat sepi, si kucing pun dengan santainya menghampiri meja makan. Ketika hendak menjangkau seekor ikan goreng utuh di atas piring keramik, si gadis kecil muncul dari kolong meja dan mengageti si kucing yang seketika terbirit-birit keluar.
Di sore hari, kucing liar mencoba metode yang baru. Dia tidak lagi semena-mena memasuki dapur si gadis kecil, dia menghampiri gadis kecil yang sedang bermain sendirian di halaman rumah. Meong. Dia mendekati kaki kecil si gadis. Dengan licik, si kucing liar mengelus kaki si gadis kecil dengan bulu-bulu lembutnya. Meong, meong. Dia bersikap manja.
Gadis kecil yang awalnya ingin menjauh, kini merasa iba dan melipat kedua lututnya mendekati si kucing. Hihi.. Si gadis kecil tersenyum melihat tingkah lucu kucing liar itu. Mereka pun bermain bersama dan berlari-lari mengelilingi halaman rumah.
Keesokan harinya, si gadis kecil tak menemui kucing liar berbulu putih itu. Kening mungilnya mengernyut. Ia berlari menuju dapur. Ikan goreng buatan ibunya masih utuh di atas meja. Kemana dia pergi?
Gadis kecil itupun mencubit ikan goreng makan siangnya lalu berkeliling di sekitar halaman sambil memegang secubit ikan goreng. Dia menunduk-nunduk, mengintai di sekitar pot-pot bunga. Meong, meong. Kini si gadis kecil bahkan mencoba menyerupai suara kucing liar, berharap si kucing terpanggil dan menghampirinya.
Namun anehnya si kucing liar tak juga terlihat. 
Gadis kecil itu sedih, dia kecewa sambil menatap secubit ikan yang berada tangan kanannya.

Apa yang sedang aku lakukan?
Mengapa kucing yang biasanya kuusir dan kujauhi itu kini dengan susah payah kucari sambil membawakannya ikan goreng kesukaanku?
Mengapa aku menjadi sebodoh ini? Kini cartoon kesukaanku telah habis jam tayang sedari 30 menit yang lalu karena aku membuang-buang waktu mencari seekor kucing liar.
Dengan perasaan menyesal, si gadis kecil pun memasuki rumah dan mengunci pintu. 
Semua jendela ditutupnya rapat. 
Berharap tak ada lagi kucing-kucing liar yang bisa mengendap masuk ke rumahnya.

Tuesday, August 9, 2016

Let's Go Back to the Good Old Days, My Bestie


Bukankah ketika orang lain terlebih saat orang terdekat kita perhatian kepada kita, kita akan merasa senang dan merasa sangat disayangi?
Saya tahu bahwa pribadi orang berbeda-beda tapi mengenai hal ini, saya pikir semua orang pasti akan merasakan hal yang sama.

Saya hanya sangat sangat tidak bisa mengerti. Ketika saya hanya menunjukkan rasa perhatian dan sayang kepadanya. Dia malah merasa dibenci dan marah bukan main. Saya benar-benar heran, maksud saya, bagian mana yang membuatnya marah? Apa yang membuatnya mengubah keperhatianan saya itu menjadi kebencian?
Apa yang membuat alat pikirnya menolak untuk sediiikitt saja mengerti maksud dan niatan saya?
Bahkan setelah meminta maaf dan tidak ada lagi ketergesekan beberapa bulan, eh ternyata setahun kemudian kebenciannya itu masih tersimpan lalu dicipratkan kembali.
Saya tidak bisa menahan diri juga untuk tidak merasa marah dan kesal. Marah kepadanya dan marah kepada diri saya sendiri. Karena hal ini, saya malah memiliki trauma dan sebisa mungkin untuk tidak menasihati sahabat saya sendiri apalagi orang lain. Saya terus menahan diri sebisa mungkin. Saya malah memilih diam.

Bodoh.
Hanya karena ini, saya malah mengunci diri dan membiarkan hal-hal negatif bergentayangan di sekitar orang-orang yang saya cintai setahun belakangan ini.
Saya kecewa. Kecewa kepadanya dan kepada diri saya sendiri. Namun kejadian itu benar-benar sangat berdampak besar untuk saya. Ketika saya mencoba untuk kembali menunjukkan rasa sayang itu, bayang-bayang kejadian ini muncul dan seketika menghentikan saya dan lebih baik tidak berbuat apa-apa.
Walaupun saya bukan orang yang baik-baik amat, tapi alhamdulillah saya tau mana yang baik mana yang bukan, mana yang dosa mana yang tidak. Namun saya menyerah.

Saya pernah berpikir, mungkin cara saya menyampaikan saja yang salah, tapi setelah setahun ini berpikir, saya belum juga mendapati kesalahan dari cara yang saya lakukan. Saya putus asa dan memilih untuk mendiami saja.

Kepadamu, teman kecil dan sahabat sedari bangku SMP, saat itu saya benar-benar tulus hanya ingin melihatmu menjadi lebih baik, karena saya yakin yang kamu lakukan itu salah. Saya benar-benar tidak ada sedikitpun maksud untuk menjatuhkan atau menyakitimu.

So, can we go back to the good old days? Can you just let go of your painful? Could you try to understand me?
You know that writing this kind of letter makes me goosebump, right? But I really tried to show my sincerity..

Sunday, August 7, 2016

Stop Being Nice to Her


Ketika orang-orang berkata untuk jangan menghindar, maka dia memilih untuk menghindar
Karena pilihan tak menghindar adalah untuk mereka yang kuat, who can act normally while she can't

Percayalah bahwa mereka yang berpura-pura tidak peduli sama sekali, in order to maintain their dignity, sebenarnya sangatlah lemah hanya saja mereka pandai menahan topeng beton itu dalam bebera menit, sampai keadaan memungkinkan untuk ia menoleh lalu peduli dalam hening

Kepada mereka yang memilih untuk tidak pernah lagi bersikap baik, sejatinya adalah orang-orang yang baik. Karena mereka sadar, bersikap baik kepada orang-orang lemah itu hanya membuat mereka semakin lemah. Karena jika kau berniat bersikap baik hanya untuk sekali-dua kali, akan membuatnya berada dalam kesulitan

Jadi, kepada kalian yang telah menyadari sosok bertopeng nan lemah itu. Segeralah berhenti bersikap baik terhadapnya. Menghindarinya bukanlah pilihan yang buruk. Mereka akan berterima kasih kepadamu, walau lagi-lagi dalam kepura-puraan tidak peduli.
Well, stop being nice to her.





Wednesday, June 1, 2016

Farewell: Terima Kasih untuk Empat Tahun


**

Mungkin karena sejak kecil diajarkan untuk selalu berterima-kasih pada setiap pemberian, maka akan kuanggap cerita kosong selama empat tahun ini adalah pemberian yang harus ku'terima-kasih'kan

Mari sudahi saja kebertepukan yang tak berbunyi, mungkin kau juga sudah lelah, walau bukan tangan kananmu yang menengadah

Walaupun perasaan tak dapat diselesaikan dengan usaha melupakan, maka biarlah jika sekiranya begini

Toh, kau tak akan berubah atau terganggu sekalipun, tanpa tebebani oleh luka-luka yang telah lalu, dan sekian harap yang tak pernah teraih. Sedangkan aku tak perlu tertekan oleh keharusan untuk melupakan
Karena jiwa ini membutuhkan kebebasan tanpa kekhawatiran lagi, tanpa harap-harap semu yang bodoh, maka kan kuizinkan ia bebas mengejar kebahagiaan.


Saturday, April 23, 2016

Disappointed

Suatu siang yang terik seorang wanita berdiri pada bibir jalan raya, matanya terus siaga sambil sesekali mengelap peluh, menanti angkot yang belum juga ditemuinya. Berselang beberapa menit, sebuah angkot pun terlihat dari kejauhan, wanita tersebut seketika merentangkan tangannya ke depan, berharap pak supir melihatnya dan menancap rem sehingga angkot dapat berhenti tepat di depannya.

Namun apa yang terjadi? pak supir bahkan tak menolehkan wajahnya pada wanita tersebut, bola matanya pun tak beralih sedikit pun kepada si wanita, ia terus saja memacu angkotnya, berjalan lurus dan dalam beberapa detik telah jauh meninggalkan wanita tersebut di belakang.

Lantas apa yang dilakukan oleh wanita tersebut?
Apakah berlari mengejar angkot sampai angkot itu berhenti?
Apakah ia akan menunggu hingga angkot tersebut berbalik arah?

Haha..
Tentu saja tidak, karena ia tak sebodoh itu. Ia paham bahwa bediri di bawah terik matahari hingga berpeluh, adalah usahanya agar sampai ke tempat tujuan dan si angkot adalah sekadar sarana menuju tempat tujuan.
Bukannya menjadikan angkot tersebut sebagai tujuan.

Seperti penumpang pada umumnya, wanita tersebut pun mencoba sedikit bersabar, sedikit kesal dengan angkot yang melaluinya, lalu seketika melupakan dan menanti angkot-angkot lainnya.

Dan saya akan melakukan apa yang wanita tersebut lakukan, karena saya ingin menjadi penumpang pada umunya, menjadi tidak bodoh.


Friday, April 15, 2016

It's a Beautiful Day!

Langit menjingga
awan kelabu berarakan, melengkung-lengkung
hei mereka tersenyum

Angin sore merayu padi-padian
berlenggak-lenggok
mereka menari, mengikuti angin

Jajaran pipit berkelintaran
saling bercengkrama, dengan lirik yang itu itu saja
merdu sekali
mereka bernyanyi

Dan mata ini berbinar, mengamati mereka satu per satu
bahkan saat itu dahan-dahan kerontang tak berdaun terlihat melengkung mengisyaratkan senyuman, dan langit di seberang yang semakin kelam pun terlihat damai tak kalah indahnya, sedangkan angin petang yang mulai menusuk memunculkan debaran yang entah dari mana
haha
aneh
cause today it's a beautiful day
and I can't stop myself from smiling ^_^

Alhamdulillah



Gowa, senja selepas hujan

Sunday, March 13, 2016

Kapan (k)ata (i)tu akan jadi pan(ta)s?

kita, dua kosa kata yang berpikir tuk kuselipkan dalam sebait tulisanpun tak berani

mungkin karena risi yang menyeruak atau berhamburnya sekardus kenangan yang semula terisolasi rapi

atau bisa jadi karena di setiap tulisan ini memang tidaklah pantas ada kata kita

di antara syair orang-orang yang bertuliskan kata kita, selalu saja kudapati diriku menciut

bagaimana mungkin mereka menaruh beberapa kita pada tiap barisnya tanpa beban?

*
suatu saat akankah kata itu kan menjadi pantas?

dan dengan nyamannya kuselipkan pada beberapa bait

Saturday, February 27, 2016

Nobody will understand me: Gara-gara EXOluXion in Jakarta

Saya yakin bahwa tidak semua orang bisa mengerti perasaan seseorang, jika mereka tidak merasakannya sendiri
Maka dari itu kepada kalian yang bukan EXO-L, silahkan mengabaikan tulisan ini. Terima kasih
...

Setelah berhasil menggelar konser "The Lost Planet" di Indonesia pada tahun 2014, hari ini, Sabtu, 27 Februari 2016, EXO kembali mengadakan konser EXO Planet 2 EXOluXion di Jakarta. 
Perasaan kecewa dari dua tahun silam saja masih jelas terasa, dan sekarang, perasaan itu malah tertumpuk, rasanya benar-benar berat, membayangkan euforia EXO-Ls beruntung disana. Mereka pasti serasa mimpi, bertemu orang-orang yang setiap hari hanya dapat mereka lihat dari balik layar handphone.

Hhhh oksigen yang kuhirup ini, mereka juga sedang menghirup oksigen dari negara yang sama denganku. Kita sedang menghirup dan memandang langit yang sama, bukan?-_-

Jujur, saya tidak pernah tertarik dengan hal-hal semacam pacaran, dan selalu menjawab "tidak" setiap teman-teman sekampus menanyakan pendapat saya mengenai ketampanan seseorang. "Liatmi itue, cakep na toh?", "nda, biasaji"
Hmm, mungkin karena standar ketampanan yang saya ketahui itu berbeda haha-_-"


Mereka disana pasti sedang sangat bahagia, sampai berusaha meminimalisir kuantitas kedipan mata. Sedangkan saya disini, hanya bisa mengabadikan rasa kekecewaan. Ah! jinjja you're so lucky guys.

D.O oppa, lagi-lagi kita tak dipertemukan, padahal kau sudah jauh-jauh ke Jakarta, maafkan EXO-Lmu yang tak berduit ini -,_-

Saya berharap, bagi kalian yang bukan EXO-L tapi masih membaca hingga baris ini dapat mengerti walau hanya seperseribu perasaan saya, berhenti menertawakan saya, walaupan saya tahu bahwa postingan kali ini akan anda cap menjadi postingan teralay saya-,-
Sekian.


Ya, Allah, I wish I were here right now, One day, You will give me a chance, right? Jebal :')


Saturday, December 12, 2015

Hujan; derai memori usang

Pada Oktober pun November
Bak beruang kutub beradaptasi
Sepotong hatinya berhibernasi
Damai dalam tawa-tawa
Tanpa letupan-letupan
Tanpa tingkah-tingkah bodoh
Lepas

Hampir saja menjadi kebiasaan
Akhir tahun hadir
Desember menyapa
Didampingi hujan yang semakin sering bertamu
Mengiringi detik-detik senja
Mengiringi tidur panjangnya
Disenandungi bunyi hamburan air
Pada permukaan genting
Tik tik tik
Gerisik

Mungkin oleh atap yang berderai
Atau oleh kenangan nan dirapal hujan
Sandarannya tergoyahkan
Tergoncang semenit
Sejam
Dua jam
Memorinya bersekutu
Dan ia terbangun
Dari hibernasi yang ia harap
Sebuah kematian saja

Thursday, September 24, 2015

Don't Get Hurt

Apalah daya seekor kelinci setelah mengetahui bahwa si kancil tengah tebaring kelelahan di seberang sungai nan riam di sana?

Ia hanya dapat meratap dalam-dalam, tak ada yang dapat ia lakukan. Dan yang paling membuatnya kesal: si kelinci payah tak memiliki alasan untuk sekedar berusaha atau mencari cara menyeberangi sungai, untuk sekedar membawa sebiji apel upaya menambah energi kancil yang telah banyak hilang.

Menurutmu apa yang harus dilakukan si kelinci?
Ia bukanlah siapa-siapa, namun dadanya teramat sesak

Dengan mata merah terseduh-seduh, batinnya mengulum bimbang,
“Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah kesusahan dan berilah dia kesembuhan, Engkau Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain” (HR Bukhari dan Muslim)

U'll get through it, I know you can do it! :) afwan

Saturday, August 29, 2015

Mencarimu

Aku senantiasa mencarimu. Di bawah arak-arakan awan di siang hari. 
Di antara kebisingan pun kebisuan. Meski aku tahu kamu tidak ada di sana. 
Aku tetap mencarimu. Kutelusuri jalanan kota hingga sudut-sudut gangnya. 
Mencarimu di antara pengguna roda dua yang melaluiku. 
Aku tetap mencarimu meski kutahu kamu tidak sedang di sana.

Aku masih mencarimu. Di deretan pohon pelindung dan bangku-bangku di taman kota. 
Di baris panjang kursi perpustakaan. Hingga di antara saf majelis. 
Meski kutahu kamu tak ada di sana.
Aku belum berhenti mencarimu. Di antara kalimat tanya yang ku sampaikan kepada orang-orang. 
Di antara ratusan status di media sosial. Pada hanya beberapa teks yang masih tersimpan sedari dua tahun yang lalu. 
Aku belum berhenti mencarimu. Bukan. Aku hanya tak bisa berhenti.






Terinsprirasi oleh coretan mengena Kurniawan Gunadi

Friday, August 7, 2015

Everybody Changes

Sama halnya dengan musim yang berganti, setiap orang telah berubah dan akan berubah
Apakah musim tak diperkenankan melakoni peran sejarah saja?
Ia tak berubah dan tak akan pernah berubah

Seiring musim berlalu, orang-orang semakin jelas saja perubahannya
Dan entah kenapa, rasanya lebih menakutkan dari mimpi buruk yang berulang-ulang

Apakah melakoni sejarah adalah sebuah kesalahan? atau suatu hal yang sebaiknya tak dilakukan?

Manusia adalah makhluk lemah yang tak seharusnya diharapakan dan dikasihi secara berlebih, saya pun tersadar dan disadarkan

Coz just like seasons, people CHANGE



Friday, June 12, 2015

Pikiran dan Perasaan Selalu Melampaui Langkah Kaki

Di titik ini aku masih kesulitan terseok bahkan terdiam.
Tanpa perpindahan

Sedangkan dia yang juga aku telah lama berlayar sedari tiga tahun yang lalu, walau belum juga berlabuh
Memang benar bahwa pikiran dan perasaan manusia selalu lebih jauh dari langkahan kakinya sendiri

Ia yang juga aku adalah anugrah tanpa diberi batas sejelas dan sedetil langkahan kakiku
Walaupun sedikit lebih bebas, ia tetap saja tak berdaya
Tanpa langkahan kakiku, ia tak mampu beranjak nyata
Ia bisa saja tersesat karena berlabuh terlalu jauh

Namun, jeritan pun pintanya dalam diam memiliki kekuatan yang tak terkira
Jauh melampaui langkah kakiku yang berlari
Olehnya ia meski mampu melalui batasan-batasan langkah kaki, sebaiknya berdiam lalu menunjukkan kekuatannya diujung-ujung sajadah, di antara buliran bening yang tak tertahankan, serta di atas telapak tangan yang tengah menengadah

Sebaiknya ia diam menemani kedua kaki sampai siap melangkah
Hingga langkahku diberi jalan di antara batasan-batasan itu
Hingga ia dapat berbunyi lalu berjalan sejajar dengan langkahan kakiku
When the time is right, it'll happen. So, just be strong and be patient :)

 
-sincerely to my unrequited heart, haha

Thursday, May 7, 2015

Kinda a Loner

Sendiri bukan berarti sepi
Kau bisa merasakan keramaian yang diciptakan orang-orang disekitarmu
Sendiri juga bukannya tak nyaman

Dengan sendiri, kau boleh leluasa menemukan solusi dari berbagai masalah yang kau jumpai dengan menyelami labirin alat pikirmu
Dengan sendiri, kau dapat leluasa menengadah berlama-lama seraya menikmati tarian awan yang berakak-arakan, tentunya tanpa rasa cemas bahwa seseorang yang sedang bersamamu mungkin merasa tak diacuhkan
Dengan sendiri, kau akan lebih leluasa mengaduh kepada cinta nomor satumu, yang selalu menemanimu, anytime and wherever you are

Kadangkala beberapa orang sangat khawatir ketika ia sendiri
Kadangkala beberapa orang lainnya seringkali mencari-cari kesempatan agar dapat sendiri, agar dapat terbebas dari penjara kenaifan dan agar tak perlu repot-repot menyembunyikan hal-hal yang sebaiknya disembunyikan

Sendiri tak selamanya malang seperti kebanyakan sepasang bola mata tangkap
Sometimes you need to know how to be alone. Not to be lonely. :)

Wednesday, April 15, 2015

The Strongest Barrier

Adakah palang itu kan roboh?
Sebuah palang yang tak kasat mata namun lebih kokoh dari ketiga barrier ciptaan demon-demon Naraku, yang bahkan pedang Tessaiga kewalahan menghancurkannya.

Adakah saatnya batas itu kan pudar?
Sebuah pembatas yang lebih nyata dari isolasi geografis di masa evolusi, oleh gunung-gunung yang menjulang dan luasnya bahari.

Suatu saat, mungkinkah palang itu kan menjelma menjadi emulgator?
Sebuah zat pengemulsi yang menyatukan air dan minyak yang sering disebut bermusuhan karena adanya perbedaan tingkat polaritas pada keduanya.

Entah kenapa, kepakan sayap kupu-kupu di perutku semakin menggebu ketika kucoba melewati palang-palang tersebut. Sebuah palang yang tak berarti apa-apa bagi kebanyakan orang.
Apakah palang itu tak bekerja bagi mereka yang tak menganggapnya ada?
Haruskah ia tak kuanggap ada juga?
Namun adakah cara untuk tetap berdiri tegap dan berjalan maju ketika di hadapanmu terpampang ombak raksasa yang seakan siap menelanmu?
Pembatas itu terlalu nyata untuk dianggap tak terlihat..


Sunday, March 22, 2015

Paku yang Kukuh

Rela sudah kedua tungkaiku seperti paku yang menancap kukuh pada kayu-kayu.
Yang kian lapuk oleh pergantian panas dan hujan. 
Keduanya keras kepala tak bergerak, walau seinci, 
meski angin ribut perlahan berarak 
dan memintanya tuk menyerah saja.

Saturday, March 14, 2015

Kepada Seseorang yang Ternyata Bisa Puitis


Assalamu'alaikum

Untuk seseorang yang ternyata bisa puitis, haha
Apa kabar?

Saya bertanya karena benar-benar tak tahu, tapi tak benar-benar ingin tahu juga.

Monday, February 23, 2015

Teruntuk Ibunda Rahmatia yang Selalu Hidup di Sanubari

Awal mendengar kabar duka, bendungan di pelupuk mata kami tak juga pecah,
alat pikir kami sesaat terputus, melongo bodoh dan terus mencari kepastian.
Kami merasa sangat berat, hingga masih belum percaya.
Bahwa sesosok ibu nan hangat itu telah tiada,
Sosok ibu nan memiliki senyum terindah itu telah pergi,
Pribadi lemah lembut itu kini meninggalkan kami.

Bukan hanya kami, kelas, bangku guru serta taplak meja yang sering beliau rapikan sebelum beranjak pun akan merasa kehilangan.
Sosok ibu yang benar-benar baru saja kemarin berdiri kokoh di hadapan kami, kini telah terbujur lemah dibalik sehelai kain batik.
Tak kita temui lagi candaan dan tatapan sejuk beliau
Namun kedua matanya masih nampak teduh seperti biasanya,
Perawakannya tetap berwibawa dan anggun seperti hari-hari sebelumnya,
Sapaan serta nasihat-nasihatnya masih bertalun jelas di benak kami.

Teruntuk Ibunda Rahmatia yang selalu hidup di sanubari, terima kasih banyak atas segala dedikasi yang telah Ibu berikan kepada kami, pengabdian serta nasihat yang telah banyak menumbuhkan pola pikir kami, jasa-jasa Ibu akan terus kami kenang. Kami semua merasa sangat kehilangan dan senantiasa memanjatkan doa agar Ibu ditempatkan di sisi-Nya sebagai tempat yang terbaik. Karena kasih sayang Allah kepada Ibu nampaknya lebih besar dibanding kami.

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un wa inna ila rabbina lamunqalibun. Al-Fatihah.


Mengenang momen bersama Ibu Tia
 

Blog Template by BloggerCandy.com