Wednesday, October 25, 2017

Never Think Twice Again!

Ya Allah
Sebenarnya apa yang salah dengan hati ini?

Ketika melihat mereka yang dipinggir jalan kesusahan, hati merintih, ingin berenti, sekedar menyelipkan sedikit bantuan di tangan mereka. Tapi kenapa hal itu tidak terjadi?
Mata ini tidak dapat berpaling, namun kaki dengan sendirinya tetap berjalan melintasi mereka. Ada apa?
Apakah karena ketersdaran bahwa dompet juga sedang menipis? Apakah memang karena noda yang ada di hati ini menjadi penghalang? Atau apakah otak ini terlalu banyak perhitungan?

Ya Allah
Yang menjadi kontradiksinya adalah, sepulang dari tempat itu, setiba di tempat tujuan, hati merasa teriris, akal masih terus terbayang akan mereka, dan kaki serasa ingin berlari ke tempat tadi, penyesalan bertubi-tubi menghampiri, dan tidak terasa air mata menetes di pipi.
Tapi lagi lagi kenapa?

Kuharap ini yang keterakhir kali
Benar-benar yang terakhir
Bahwa ketika bertemu lagi dengan mereka yang sedang membutuhkan
Otak serta anggota tubuh ini bekerja sama sejalan dengan keinginan hati
Berapapun itu
Tanpa keragu-raguan dan dengan sangat mantap
In syaa Allah

REMINDER!
If you want to help someone. Never think twice!
Cause you'll regret it later!


Bandung, 25 Oktober 2017

Tuesday, July 4, 2017

Setelah Kepergianmu

Setelah kepergianmu
Biarkan kubercerita untuk yang terakhir kalinya kenyataan tentang kami
Kini
Tak ada tawa yang berkurang dari wajah kami
Tak ada tangis yang pecah di mata kami
Pun tak ada mendung yang menyelimuti rumah kami

Setelah kepergianmu
Sebuah kepergian yang dinanti-nantikan itu
Dia kini menjalani langkah baru
Sebuah langkah lepas tanpa ragu-ragu
Bak seekor kelinci yang melompat-lompat girang
Saat terbebas dari kekangan kandang bertahun-tahun

Setelah kepergianmu
Awan gelap pun tebal itu lenyap
Kini giliran lengkungan merah kuning hijau itu hadir
Memenuhi bola mati kami yang kehausan pelangi

Setelah kepergianmu
Maka sebagai permohonan pertama dan terakhirku
Tolong biarkan kami kini menikmati pelangi itu
Sudah cukup awan tebal menghiasi langit kami setiap hari
Pergilah sejauh mungkin
Sampai penglihatan kami bebas akan rupamu
Pergilah setenang mungkin
Hingga telinga-telinga kami tak pernah mendengar sedengungpun tentangmu
Pergilah semantap mungkin
Hingga batin-batin kami tak lagi terganggu atas kemunculan tibat-tibamu yang tak diinginkan itu

Sunday, April 2, 2017

"Seandainya tidak ada kejahatan di dunia ini.."

Seandainya tak ada kejahatan di dunia ini..
Sebuah kalimat yang akhir-akhir ini terus terngiang, setiap melihat keluar jendela, keadaan dunia yang sesungguhnya, keadaan dunia nyata yang sungguh miris dan benar-benar menyeramkan. Saya tahu, bahwa yang terlihat di media-media hanya sepersekian persen dari berbagi kekejaman yang terjadi di bumi ini.

Gerombolan remaja yang merasa senang saat mem-bully temannya sendiri, tanpa pernah sekalipun berpikir, "bagaimana jika saya yang berada diposisinya?".
Beberapa orang tua yang hatinya telah mati dengan menganiaya anaknya sendiri, tidak, mereka bahkan tak pantas disebut orang tua.
Perampok, pencuri, begal, dan apalah sebutan mereka yang taunya hanya merampas milik orang lain, tak ada bedanya dengan seekor kucing liar yang mengambil ikan para ibu rumah tangga, setidaknya kucing liar sedikit tahu diri, mereka mengambil tanpa main fisik.
Egoisme beberapa pejabat yang menginjak-injak masyarakatnya sendiri dengan sepatu kekuasaan.
Para pedofilia dan sejenisnya yang telah kehilangan akal sehat seutuhnya.
Dan yang berada pada level tertinggi, iblis berwujud manusia, yakni kekejaman para tentara Bashar al-Assad dan Israel yang sepertinya telah lupa ingatan bahwa diri mereka adalah manusia.

Seandainya tak ada kejahatan di dunia ini..
Saya sadar, bahwa kalimat tersebut tak sepantasnya diucapkan, karena bisa berarti mempertanyakan takdir dan kehendak Allah.
Namun, hati kecil di lubuk ini terus melonjak tak ingin diam. Mendengarkan jeritan mereka yang menderita, memiliki beban besar ingin menolong mereka keluar dari penderitaan. 
Saya sadar bahwa itu adalah sisi kemanusiaan yang fitrah, dan walaupun terbebani, saya tetap bersyukur dengan hal itu, setidaknya dengan beban ini akan menjadi tembok kokoh yang menghindari empunya dalam melakukan kekejaman-kekejaman di atas.

Kepada para pelaku kejahatan, kepada kalian yang telah berbuat jahat, baru saja berbuat jahat, atau yang merencanakan kejahatan, serta kepada diri saya sendiri.
Hanya semenit.. Mari letakkan tangan kalian di tempat hati berada, rasakan keberadaannya, sambil memejamkan mata, hirup udara lepas selepas-lepasnya dan temukan sisi kemanusiaan kita. Bagaimana keadaannya? Masihkah dia berada di sana?

Semoga kita, keluarga serta orang-orang yang kita sayangi senantiasa terhindar dari segala bentuk kejahatan dan berbuat jahat.
Aamiin Ya Rabbal 'Alamin

Sunday, February 5, 2017

Saatnya Membuang Sepatu yang Lama

Sudah kurang lebih lima tahun, dan Wei masih menggunakan sepatu kets yang sama selama itu.
Sejak SMA hingga di tahun kedua statusnya sebagai mahasiswa. Dan sepatu abu-abu yang awalnya hitam itu masih terlihat melekat di kakinya. Tak sedikit temannya yang bertanya "Kenapa tidak beli yang baru saja?," tapi dengan senyum khasnya dia selalu menjawab "Entahlah, mungkin karena sudah sangat nyaman memakainya."

Sejujurnya, Wei sendiri bingung, kenapa tidak membeli sepatu baru saja(?) lalu membuang sepatu kets kesayangannya itu, toh membuangnya bukan lagi hal yang mubazir.
Hingga suatu siang, mungkin karena rasa bosan kini mulai menutupi rasa nyamannya, Wei akhirnya memutuskan untuk membeli sepatu kets baru. Kedua matanya sibuk menulusuri layar smartphone, aplikasi online shop menjadi pilihannya.

Tanpa berpikir panjang, dia memilih sepasang sepatu kets berwarna ungu, hmm sama sekali bukan style-nya, dan tanpa membaca deskripsi bahan dan lain-lain dia pun menekan tombol beli. Sekilat itu?
Yah, paling tidak itu adalah satu langkah yang positif, paling tidak dia mulai menyayangi dirinya sendiri.
Soal sepatu baru? hmm biarlah itu menjadi masalah baru yang akan dicari solusinya nanti. Karena salah satu metode terbaik agar Wei tidak memakai sepatu lamanya adalah dengan membeli yang baru, right?


Tuesday, December 27, 2016

I'm Out Of My Mind

I realized that currently, I was out of my mind 
Bahwa saat ini pikiran saya sedang berada di puncak-puncak kenakalannya, tak ingin lagi mematuhi keinginan tuannya
Memikirkan seseorang yang sangat sangat terlarang untuk dipikirkan
Dan sejenak melupakan seseorang yang telah terbiasa dipikirkannya

Dear my mind,
Tolong kali ini saja patuhi saya, kau tahu bahwa ini pertama kalinya saya memohon seperti ini, bukan?
Tunjukkanlah sedikit empati kepada tuanmu yang sangat malang dan sedang putus asa ini

Kau memiliki seribu alasan untuk berhenti memikirkannya dan kembali sehat seperti sedia kala
Kembalilah kuat seperti kamu dua bulan yang lalu
Kembalilah cerdas dalam menentukan yang baik dan buruk untukmu

Huaa, what should I do so that you can obey me again?
Kau tahu akhirnya akan seperti apa jika kau menuruti keinginanmu sendiri, bukan?
Jebaaal!
Get well really soon my dear mind ;(




 

Sunday, December 11, 2016

Serunya UI Youth Environmental Action 2016

Assalamu'alaikum, apa kabar blog yang kurang terjamah?

Berbeda dengan postingan sebelum-sebelumnya, kali ini saya mau mencoba menceritakan mengenai pengalaman pribadi, haha
Semoga tidak membosankan untuk dibaca ^^

Tanggal 24-27 November 2016, Alhamdulillah saya berkesempatan mengikuti salah satu event yang diselenggarakan oleh BEM kampus tertua di Indonesia yaitu Universitas Indonesia
Event nasional ini bernama UI Youth Environmental Action (YEA) 2016 

Apa itu UI YEA 2016?
UI YEA adalah sebuah program kerja tahunan BEM UI terbesar dan berskala nasional yang diadakan oleh Departemen Lingkungan Hidup BEM UI. Acara ini menjadi ajang penjaringan partisipasi mahasiswa seluruh Indonesia yang peduli dan memiliki semangat untuk mengatasi permasalahan lingkungan di Indonesia. Nah, di tahun 2016 ini, UI YEA bekerjasama dengan Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan UNICEF Indonesia dan mengusung tema "Sanitasi, Air, dan Pemukiman".

Awal mendengar temanya, saya jadi excited. Yah, lumayan ngena dengan bidang yang saya tekuni.
Untuk bisa menjadi salah satu delegasi UI YEA, ada beberapa tahap yang harus diikuti. Tahap pertama adalah mengirimkan essay project sesuai tema. Kurang lebih seminggu saya mempelajari mengenai sanitasi dan akses air bersih di Indonesia, tapi gagasan atau ide itu belum juga muncul. Hingga akhirnya di hari H deadline, saya mencoba menguras otak semaksimal mungkin *eaa
Dan jadilah sebuah essay berjudul "Desalinasi Sistem Vakum Natural: Sebagai Solusi Permasalahan Krisis Air Bersih di Desa Bori Masunggu Kab. Maros Sulawesi Selatan". Btw, saya mengucapkan terima kasih banyak kepada teman sekelas saya, Asripa, yang telah berbagi cerita dan informasi mengenai kampung halamannya yaitu Desa Bori Masunggu ^^
Baiklah saya tidak ingin panjang lebar menjelaskan mengani essay~

Lanjut, nah setelah mengirim pada detik-detik terakhir deadline. Saya pun dengan sabar menunggu pengumuman hasil seleksi. Hingga di hari pengumuman *saya lupa kalo hari itu hari pengumumannya-_-*. Tepatnya sementara saya kuliah, hp saya berbunyi dan ternyata itu pesan WA dari panitia UI YEA "Selamat kamu lolos seleksi penjurian essay terbaik :)" hahah, karena kagetnya saya teriak sedetik di tengah-tengah perkuliahan x_x *pfft embarrassing moment


Okey let's we start!

Kamis, 24 November 2016

 At Bandara Soetta (Delegasi bersama Panitia UI YEA)

Alhamdulillah, saya bersama Ana (Delegasi Unhas) dan kak Kartini (Delegasi UIN Alauddin) tiba dengan selemat di Bandara Soetta. Dengan sabar menunggu, akhirnya panitia dan Bus UI datang juga, kita langsung cuss ke Depok, perjalanan kurang lebih 2 jam untuk sampai ke Asrama UI. Setelah registrasi, kita pun masuk kamar dan bersih-bersih, dan ternyata di dalam kamar, sudah ada 2 teman sekamar saya yang duluan tiba. Kak Yayuk (Delegasi Unsyiah, Aceh) dan Kak Hana (Delegasi ITB, Bandung). Duh senangnyaa :)

Pertemuan perdana bersama 50 delegasi di laksanakan di bundaran faculty club, UI. Dengan almamater pelangi, kami duduk berdampingan. Mereka benar-benar berasal dari daerah yang berbeda-beda. Mulai dari pulau sumatera, jawa, kalimantan, dan sulawesi semuanya berbaur menjadi satu.

Selepas shalat maghrib, kita berkumpul lagi dan dibagi menjadi 7 tim. Nah, tim-tim ini harus membuat sebuah project sesuai masalah yang dibagikan.


Bersama teman-teman kelompok 4 *dari kiri ke kanan* Fikri(UNAND), Kak Yayuk(UNSYIAH), Zakinah(UNHAS), Widi(UHO), Kak Hana(ITB), Danang(IPB), dan Kak Arbi(PENS). Kami pun mencari solusi mengenai permasalahan akses air bersih dan mahalnya bahan baku semen di Kab. Jayawijaya, Papua.

Dan besok pagi, kita sudah harus menampilkan ppt dan proposal project, wadaw-,-
Sejago-jagonya deadliner, tugas ini terbilang sangat sulit. Kita terpaksa begadang setelah perjalanan dari daerah masing-masing tanpa istirahat wkwk, Semangat!


Jum'at, 25 November 2016

Hari presentase pun tiba, sebelum masuk ruangan, kita foto bersama dulu dengan tema batik~


Ketujuh tim pun mempersiapkan presentase dan penampilan terbaik mereka. Keren keren memang projectnya! *two thumbs*  

After presentation~
*muka-muka legah haha


Saat cowo-cowonya shalat jumat, kita makan siang di pelataran perpus UI.
Diiringi angin sepoi-sepoi, dinaungi pohon-pohon rindang, serta suguhan pemandangan danau, makan siang kita jadi makin nikmat hehe

At pelataran perpus UI, kami 3 delegasi dari Makassar


 Sempatin foto depan rektorat UI saat perjalanan ke tempat seminar

Setelah makan dan shalat dzuhur. Kita lanjut ikut national seminar and talkshow UI YEA dengan judul
"Tantangan dan Peluang dari Sinergisitas Upaya dalam Pencapaian Target 100% Akses Sanitasi Layak di Tahun 2019”. Speakers dan moderatornya juga keren-keren!
1. Dr. Ir. Oswar Muadzi Mungkasa, MURP
(Deputi Gubernur DKI Bidang Lingkungan Hidup dan Tata Ruang/Pendiri POKJA AMPL – Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan)
2. Ir. Sri Hartoyo, Dipl, SE, ME (Dirjen Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat)
3. Christian Natalie Amayuri , S.T (Head of Generation Foundation)
4. Lilik Trimaya (Sanitation and Hygiene Program Officer of UNICEF Indonesia)
5. Dan kakak moderator: Miss Earth Indonesia 2016, Luisa Andrea Soemitha.

Sabtu, 26 November 2016

Yuhu! Field Trip's Day!
Berbeda dari field trip event-event pada umumnya. UI YEA memilih untuk lebih ke pengabdian masyarakat, bukan cuma cari fun nya saja.

To be continued. . .


Friday, November 4, 2016

This Shouldn't Happen From the Start

Pada suatu hari, seekor kucing liar yang telah lama tinggal di lingkungan sekitar rumah seorang gadis kecil mengendap-endap masuk ke dalam rumah si gadis kecil. Karena takut ikan goreng kesayangannya dicuri, gadis kecilpun sesegera mungkin mengusir kucing liar itu. Hush, hush.
Keesokan harinya, kucing liar tak menyerah, dia kembali masuk melalui pintu belakang rumah si gadis kecil. Rumah itu terlihat sepi, si kucing pun dengan santainya menghampiri meja makan. Ketika hendak menjangkau seekor ikan goreng utuh di atas piring keramik, si gadis kecil muncul dari kolong meja dan mengageti si kucing yang seketika terbirit-birit keluar.
Di sore hari, kucing liar mencoba metode yang baru. Dia tidak lagi semena-mena memasuki dapur si gadis kecil, dia menghampiri gadis kecil yang sedang bermain sendirian di halaman rumah. Meong. Dia mendekati kaki kecil si gadis. Dengan licik, si kucing liar mengelus kaki si gadis kecil dengan bulu-bulu lembutnya. Meong, meong. Dia bersikap manja.
Gadis kecil yang awalnya ingin menjauh, kini merasa iba dan melipat kedua lututnya mendekati si kucing. Hihi.. Si gadis kecil tersenyum melihat tingkah lucu kucing liar itu. Mereka pun bermain bersama dan berlari-lari mengelilingi halaman rumah.
Keesokan harinya, si gadis kecil tak menemui kucing liar berbulu putih itu. Kening mungilnya mengernyut. Ia berlari menuju dapur. Ikan goreng buatan ibunya masih utuh di atas meja. Kemana dia pergi?
Gadis kecil itupun mencubit ikan goreng makan siangnya lalu berkeliling di sekitar halaman sambil memegang secubit ikan goreng. Dia menunduk-nunduk, mengintai di sekitar pot-pot bunga. Meong, meong. Kini si gadis kecil bahkan mencoba menyerupai suara kucing liar, berharap si kucing terpanggil dan menghampirinya.
Namun anehnya si kucing liar tak juga terlihat. 
Gadis kecil itu sedih, dia kecewa sambil menatap secubit ikan yang berada tangan kanannya.

Apa yang sedang aku lakukan?
Mengapa kucing yang biasanya kuusir dan kujauhi itu kini dengan susah payah kucari sambil membawakannya ikan goreng kesukaanku?
Mengapa aku menjadi sebodoh ini? Kini cartoon kesukaanku telah habis jam tayang sedari 30 menit yang lalu karena aku membuang-buang waktu mencari seekor kucing liar.
Dengan perasaan menyesal, si gadis kecil pun memasuki rumah dan mengunci pintu. 
Semua jendela ditutupnya rapat. 
Berharap tak ada lagi kucing-kucing liar yang bisa mengendap masuk ke rumahnya.
 

Blog Template by BloggerCandy.com